Minggu, 04 November 2012

Kabbalah dan Artis Top Dunia

                Kabbalah dan Artis Top Dunia


SELEBRITI YANG MENGIKUTI KABBALAH
Kabbalah memiliki jumlah penganut yang cukup banyak, bukan hanya dari agama Yahudi saja tetapi juga dari agama lainnya karena ritual ini bebas dan universal. Dan, penganutnya bahkan hingga seorang aktor maupun artis. Selebritis tersebut mengikuti ajaran kabbalah secara terang-terangan, maupun sembunyi2 dibalik kedok menganut agama tertentu Kristen, Islam, dll
Jenifer Minar dalam artikel berjudul “Celebrities and Kabbalah… Why The Fascination” seperti yang dimuat dalam AssociatedContent.com (17/5/05) mengutip penulis buku “The 72 Names of God:Technology for the Soul”, Yehuda Berg, menyatakan bahwa trend artis top dunia mempelajari Kabbalah lebih didorong oleh kekosongan jiwa mereka di tengah gemerlapnya kehidupan kaum jetset. “Mereka sudah memiliki segala mimpi yang diinginkan semua manusia, namun di dasar hati mereka yang paling dalam, mereka tetap merasa haus. Mereka bingung dan bertanya pada diri sendiri tentang keberadaan mereka dan kehidupan dunia ini. Apa makna hidup bagi mereka. Sebab itu mereka mencari-cari jawabannya?” ujar Berg
Banyak selebritis top dunia yang kini gandrung pada ajaran mistis Kabbalah. Sebut saja: Britney Spears, Madonna, Ashton Kuthcner, Demi Moore, David Beckham serta isterinya Victoria, Elizabeth Taylor, Guy Ritchie, Lindsay Lohan, Keira Knightley, dan Jeff Godblum merupakan segelintir dari mereka.
Madonna mengamini pandangan Berg. Dalam berbagai wawancara soal keputusannya memeluk Kabbalah sebagai pedoman kehidupan religinya, Madonna yang memiliki ‘nama Kabalis’ Esther, mengaku sekarang hidupnya menjadi lebih bermakna. “Kabbalah telah mengubahku menjadi lebih baik. Ia (Kabbalah) mampu mengurangi egoisme yang ada dalam diriku. Bukan itu saja, Kabbalah juga memberikan ruang yang lebih luas guna dipakai sebagai sarana kontemplasi bagi banyak hal, ” papar Madonna.
BEGINILAH kalau Madonna mengunjungi Israel: sambutan pemerintah negeri Yahudi itu sungguh “wah”. Padahal, tujuan kunjungan diva musik pop dunia itu sebenarnya sangat pribadi: mengikuti sebuah konferensi pengikut Kabbalah, ajaran mistik Yahudi. Usai konferensi di Tel Aviv, Madonna menjalankan ritual khusus di beberapa tempat suci Kabbalah. Di situ, ia hanya salah satu peziarah di antara 2.000-an jemaat lain.
Toh, meski tak ada penggemar yang menguber-uber, perlindungan yang diberikan kepada Madonna ekstra ketat. Pemerintah Israel mengerahkan 2.000 polisi untuk mengawalnya.
Ketika tiba di Pemakaman Kiryat Shaul, Madonna tampak tampil sederhana. Sama sekali tak ada teriakan fans yang menyambut Madonna dan suaminya, Guy Ritchie. Madonna cuma mengenakan celana jins, sweater warna hitam abu-abu, serta kalung dengan bandul huruf E bertatahkan berlian. E adalah inisial Esther, nama Yahudi yang dipilih Madonna untuk dirinya.
Sebelumnya, Madonna yang berdarah Italia ini memang beragama Katolik Roma. Namun, beberapa tahun terakhir, penyanyi yang kini mukim di Inggris itu larut dalam keyakinan barunya, Kabbalah. Sejak itulah Madonna mengadopsi nama Yahudi. Yang unik, ada benang merah di pergelangan tangannya. Madonna percaya, benang itu bisa menangkis “mata setan”.
Selama penziarahan, puluhan polisi dengan senjata di pundak mengapit pasangan itu. Mobil patroli diparkir di sejumlah tempat strategis yang akan dilalui Madonna. “Saya merasa aman di sini, lebih aman dibandingkan New York,” kata Madonna, seperti ditulis International Herald Tribune.
Madonna menghabiskan waktu hampir satu jam untuk berdoa di sebuah mausoleum. Ia meletakkan lilin di dekat makam, berdoa dan menyanyikan lagu pujian. Selanjutnya, dibimbing seorang rabi, Madonna meneruskan ritual dengan minum anggur dan mengitari makam. Menjelang akhir acara, Madonna tampak mengusap air mata yang menetes dari pelupuk matanya.
Madonna Saat Memasuki Makam Rabbi Ashlag di Yerusalem (Yahoo! News/REUTERS/Pedro Ugarte/Pool)Sebenarnya, sejumlah kalangan menentang kedatangan dan masuknya Madonna ke Kabbalah. Mereka menyatakan hal itu sangat tak pantas. Nilai-nilai hedonis dan materialistik yang diusung penyanyi itu di masa lalu bertentangan dengan nilai religius Kabbalah. Namun sejumlah pengikut Kabbalah tak mempermasalahkan Maddona. Meski begitu, sejumlah peziarah secara terbuka mengkritik Madonna.
Ketika melintasi “Dinding Barat”, tempat yang dikeramatkan pengikut Kabbalah, Madonna enggan turun. Para peziarah berkomentar, dengan tetap di mobil, Madonna kehilangan pengalaman spiritual. “Mengapa dia tak keluar, kami menunggunya,” kata Hadass Chen, yang sengaja datang cuma untuk melihat penyanyi itu. “Jika tak menyentuh dinding itu, kau kehilangan getaran spiritualnya,” teriaknya.
Di sisi lain, sepekan menjelang kedatangan Madonna ke Israel, muncul kabar tak sedap mengenai Kabbalah. Dilaporkan, Madonna sempat menagih detail laporan keuangan jutaan dolar yang telah ia donasikan ke Kabbalah Center Los Angeles. Dia boleh jadi kaget menemukan duitnya nyasar ke sejumlah real estate.
Menurut Rick Ross, ahli soal pemujaan yang sering mengkritik Kabbalah Center, para pengurus sekte keagamaan itu rajin membeli sejumlah properti di sekitar markas mereka di South Robertson Boulevard, Los Angeles. “Rumah mewah mini tengah dibangun untuk pemimpin Kabbalah Center di atas tiga bidang tanah,” kata Ross. Satu di antaranya dikuasai Philip Berg, bekas penjual asuransi yang memopulerkan Kabbalah menjadi agama yang ngetrend. Dua rumah lain untuk anak Philip Berg, Michael dan Yehuda.
Madonna [Kiri] Saat Menyaksikan Sebuah Konser di Tel Aviv, Israel (Yahoo! News/REUTERS/Str)Juru bicara Kabbalah Center tak membantah kabar soal pembelian sejumlah real estate itu. “Kabbalah sedang berkembang,” katanya. Namun juru bicara itu menyatakan tak memiliki informasi lebih spesifik soal pembelian itu. Tudingan miring atas Berg, yang kini memiliki 50 Kabbalah Center, tak hanya datang dari Ross. Rabi Avraham Ravitz, 70 tahun, turut memprihatinkan perkembangan yang terjadi di Kabbalah.
“Mestinya, orang belajar dulu tentang kebudayaan Yahudi sebelum masuk Kabbalah,” kata Ravitz, seperti ditulis Newsweek, 20 September. Meski begitu, ia mengakui sejumlah Kabbalah Center di luar Israel turut mendorong sejumlah artis Hollywood untuk mempelajari kitab Zahor, teks utama Kabbalah, dengan mudah dan menyenangkan.
Belakangan, Kabbalah memang mulai populer. Saking “modisnya”, sejumlah selebriti Hollywood seperti Britney Spears, Demi Moore, hingga Ashton Kutcher juga tertarik pada Kabbalah. Maka, kritik atas komersialisasi Kabbalah seakan membentur tembok. Di Kabbalah Center London, sebuah kitab Zahor dijual seharga 300 poundsterling, gelang benang merah 15 poundsterling, dan sebotol air yang telah diberkahi 2,80 poundsterling.
Selain itu, masih banyak lagi pernik upacara, seperti batu penyembuhan dan kartu meditasi. Dari situ, dalam setahun sedikitnya US$ 20 juta masuk ke kantong Berg. “Itu semua sungguh tak tepat,” kata Rabi Ravitz, menyayangkan. Tapi, jika sudah jadi urusan kepercayaan yang membuta, siapa mau mendengar suara lain?
Seperti halnya Madonna, artis Lindsay Lohan pun memiliki ‘nama Kabalis’nya sendiri setelah masuk menjadi anggotanya. Namun jika Madonna memilih nama ‘Esther’ maka Lohan memilih nama ‘Rose’, sebuah nama yang cukup kuno dan memiliki arti yang sangat penting dan khusus dalam ritus Kabbalah. Salah satu kuil Kabbalah kuno yang didirikan pelarian Templar berdiri di Skotlandia dan diberi nama Rosslyn Chapel, Kapel Rose.
Madonna memang dikenal sebagai ikon selebritis Kabalis. Salah seorang pengagumnya yang juga artis top, Britney Spears, mengikuti jejak sang idola masuk menjadi anggota Kabbalah. Ketika Britney menyatakan diri masuk Kabbalah, Madonna memberinya buku tentang Kabbalah sebagai hadiah khusus darinya. Bagi Spears, Kabbalah memberinya banyak kebebasan dalam berekspresi, juga dalam selera seksnya yang oleh banyak kalangan dianggap murahan.
Banyaknya artis top dunia yang memeluk Kabbalah tidak lepas dari peran pusat-pusat Kabbalah yang berdiri di kota-kota besar di Amerika dan Eropa. Menurut Jenifer Minar, di seluruh dunia sekarang ini telah berdrii tak kurang dari 50-an pusat Kabbalah (Kabbalah Centre). “Siapa pun bisa masuk ke sana dan menjadi anggotanya, ” demikian Minar.
Arti Kabbalah
Kabbalah sendiri sesungguhnya memiliki arti sebagai ‘yang diteruskan atau diwariskan secara lisan’. Ajaran Kabbalah dipercaya merupakan ajaran paganisme yang memadukan kepercayaan terhadap kosmos dengan jiwa manusia, sumber dari ajaran Talmud yang kini banyak dianut oleh kaum Zionis-Yahudi seluruh dunia.
Hanya saja, Kabbalah juga lekat dengan ritus-ritus ajaran kegelapan dan satanisme. Banyak ritus yang dilakukan para Kabalis guna ‘memelihara’ jiwa Kabbalahnya, antara lain ritus pengorbanan nyawa manusia, ritus meminum darah, ritus seks bebas, dan lain sebagainya. Sejak berabad silam Gereja menentang ajaran ini. Namun para Kabalis kemudian melakukan perlawanan terhadap Gereja dan bahkan mendirikan gerejanya sendiri dengan nama Satanic Churc atau Gereja Setan. Di Indonesia, kasus Gereja Setan pernah diberitakan ada di Bandung dan tempat lainnya, walau kemudian menghilang begitu saja.
Kabbalah atau Qibil dalam bahasa Ibrani awalnya adalah istilah yang netral, yang secara harfiah memiliki arti sebagai ‘lisan’. Namun belakangan, ketika kaum Yahudi menggunakan istilah ini untuk menyembunyikan dan memelihara kepercayaan mistis-esoteris kelompok mereka, maka istilah ini menjadi sangat politis.
Encarta Encyclopedia (2005) menuliskan bahwa istilah Kabbalah berasal dari bahasa Ibrani yang memiliki pengertian luas sebagai ilmu kebatinan Yahudi atau Judaism dalam bentuk dan rupa yang amat beragam dan hanya dimengerti oleh sedikit orang.
Kabbalah ini mempelajari arti tersembunyi dari Taurat dan naskah-naskah kuno Judaisme. Walau demikian, diyakini bahwa Kabbalah sesungguhnya memiliki akar yang lebih panjang dan merujuk pada ilmu-ilmu sihir kuno di zaman Fir’aun yang biasa dikerjakan dan menjadi alat kekuasaan para pendeta tinggi di sekitar Fir’aun.
Kabbalah ini sarat dengan berbagai filsafat esoteris dan ritual penyembahan serta pemujaan berhala, bahkan penyembahan iblis, yang telah ada jauh sebelum Taurat-Musa dan telah menyebar luas bersama Judaisme, yang seluruhnya berurat-berakar pada praktek-praktek kebatinan serta penyembahan dewa-dewi di zaman Mesir Kuno.
Hal tersebut diutarakan pakar sejarah Yahudi Fabre d’Olivet. “Kabbalah merupakan suatu tradisi yang dipelajari oleh sebagian pemimpin Bani Israil di Mesir Kuno, dan diteruskan sebagai tradisi dari mulut ke mulut, dari generasi ke generasi, ” jelas d’Olivet. Banyak kalangan percaya, Kabbalah adalah induk dari segala induk ilmu sihir yang ada di dunia hingga hari ini.
Merunut akar Kabbalah bukanlah hal yang mudah dilakukan. Para sejarawan Barat menyepakati bahwa Kabbalah merupakan kepercayaan inti dari kelompok mistis tertua dunia yang dikenal dengan sebutan Broterhood of the Snake (Kelompok Persaudaraan Ular). Rezim Raja Namrudz di Babilonia dan Firaun di Mesir merupakan tonggak-tonggak awal yang amat penting bagi perjalanan kepercayaan ini.
Di masa-masa pra dan awal Perang Salib, sekitar abad ke-11 Masehi, Kabbalah mulai menampakkan diri di daerah Perancis Selatan.
Peneliti Kabalah Barat, Olivia Prince dan Lynn Picknet, yang kemudian menulis The Templar Revelation, menyatakan bahwa pembawa ajaran ini salah satunya adalah kedatangan sepasukan ksatria Yohanit dari Calabria, Belgia, ke sebuah wilayah yang dikuasai Mathilda de Tuscany dan Godfroi de Boullion.
Ksatria-ksatria Yohanit ini tidak lama tinggal di Perancis. Mereka pergi dan meninggalkan Peter si Pertapa (Peter The Hermit) yang kemudian menjadi “murabbi” bagi Godfroi de Bouillon. Peter ini kemudian menyusup ke Vatikan dan menjadi provokator bagi Paus Urbanus II yang kemudian mengobarkan perang salib guna merebut Yerusalem dari kekuasaan umat Islam.
Dalam serangan Tentara Salib pertama di tahun 1099, baik Peter maupun Godfroi menjadi panglima bagi pasukannya masing-masing. Di hari kejatuhan Yerusalem, Godfroi mendirikan Ordo Biarawan Sion dan 20 tahun kemudian membentuk ordo militer Knights Templar, yang kemudian pada 1307 di Skotlandia mengganti namanya menjadi Freemasonry.
Terusir Dari Yerusalem
Tahun 1188 Salahuddin Al-Ayyubi berhasil membebaskan Yerusalem dan mengusir pasukan Salib dari seluruh wilayah Palestina. Semua tentara Salib kembali ke Eropa. Walau tidak ada catatan tertulis, sebagian besar Ksatria Templar dan Ordo Sion diyakini sejumlah peneliti-antara lain Picknett dan Prince—memilih Perancis Selatan sebagai rumah baru mereka.
Seperti yang telah disinggung di atas, di wilayah ini telah berdiri banyak gereja yang didedikasikan kepada Santo Yohanes dan Maria Magdalena. Gereja-gereja ini tidak menginduk kepada Vatikan, tetapi memiliki kultur dan keyakinannya sendiri yang secara mendasar bertentangan dengan Tahta Suci Vatikan. Mereka juga dikenal sebagai Kaum Yohanit.
Salah satu keyakinan kaum Yohanit adalah gereja warisan Yesus itu sendiri. Vatikan meyakini bahwa Yesus mewariskan gerejanya kepada Santo Petrus yang kemudian menjadikan Tahta Suci Vatikan—sebuah pusat kerajaan Roma Paganistis—sebagai pusat religi bagi umat Kristen dunia.
Namun klaim Vatikan ini ditolak oleh kaum Yohanit yang meyakini Yesus tidak mewariskan gerejanya kepada Santo Petrus, melainkan kepada Maria Magdalena, seorang perempuan yang setia mengikuti Yesus hingga diperisterinya dalam satu pesta perkawinan di Qana, sebuah wilayah yang kini masuk dalam wilayah Lebanon.
Kaum Yohanit juga tidak menganggap Yesus sebagai Tuhan, melainkan Rasul biasa yang hanya meneruskan ajaran Tuhan yang tidak tampak. Dan di akhir zaman, Sang Messiah (The Christ) yang akan turun ke bumi bukanlah Yesus, melainkan Yohannes The Christ. Ini menurut keyakinan kaum Yohanit asli.
Hanya saja, kaum yang semula Unitarian ini menjadi tercampur-aduk dengan ajaran paganis-mistis Kabbalah. Sesungguhnya ini suatu perpaduan yang aneh. Namun benar-benar terjadi. Pengkaji masalah Kabbalah meyakini, awal pembelokkan ajaran Unitarian menjadi Kabbalis terjadi ketika Samiri—salah seorang tokoh Broterhood of the Snake—menipu Bani Israil ketika mereka ditinggalkan Musa saat Musa pergi ke Bukit Thursina.
Samiri membuat sebuah patung sapi betina yang dibuat sedemikian rupa sehingga bisa mengeluarkan suara ketika angin bertiup mengenainya. Patung sapi itu pun disembah Bani Israil dan mengacuhkan Nabi Musa.

Bermillenium tahun berjalan, ajaran Kabbalah berkembang dan merasuk ke dalam Yudaisme dan juga Taurat. Para pendeta Kabbalis bahkan membuat ayat-ayat palsu yang membuat Talmud—sebuah kitab yang awalnya sebagai penafsir Taurat dianggap lebih suci ketimbang Taurat.
Dan sebagian besar kaum Yahudi pun menjadi kaum yang mendewakan Talmud. Mereka menjadi kaum yang begitu gandrung dengan Kabbalah dan merasa menjadi bangsa terpilih dengan adanya Kabbalah yang diwariskan secara turun-temurun dengan lisan. Dan ketika mereka berkumpul di Perancis Selatan di abad ke-12 inilah, ajaran Kabbalah dibukukan. Ini terjadi di Aix en Provenc

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar